Jumat, 11 November 2011

Tips Mengendarai Mobil Bekas Dijalan Berkabut

Ketika anda mengendarai mobil bekas melewati daerah puncak atau juga saat melewati daerah pegunungan yang berkabut, kita harus ekstra hati – hati karena jarak pandang anda akan terbatas terhadap jalanan didepan anda. 


Untuk itu anda membutuhkan adanya lampu kabut yang bisa andagunakan untuk memberi penerangan pada kondisi jalanan berkabut. Lampu kabut banyak dipakai dimobil offroad atau mobil yang dipakai di daerah berkabut karena lampu jenis ini mampu menembus tebalnya kabut. Nyala lampu kabut berwarna kuning sehingga tidak akan dipantulkan kembali oleh kabut dan bisa menembusnya secara baik.

Meskipun anda sudah menggunakan lampu kabut, anda juga harus selalu waspada karena jika kabut terlalu lebat jarak pandang anda pun juga masih terbatas. Sebagai antisipasi jangan melajukan mobil terlalu kencang untuk menghindari kondisi yang mungkin tidak kita inginkan, seperti mendadak dari arah depan ada mobil yang mengambil jalur anda sehingga harus melakukan pengereman.

Selain menjaga kecepatan mobil anda,dan juga harus menjaga jarak aman dari mobil yang ada di depan. Karena saat kondisi jalanan berkabut anda tidak bisa memprediksi kondisi jalanan di depan, jika mobil didepan anda berhenti secara mendadak, dengan menjaga jarak yang agak jauh maka anda akan mempunyai kesempatan untuk melakukan pengereman. Jarak aman yang bisa anda ambil adalah sesuai dengan kecepatan anda, jika anda menjalankan mobil dengan kecepatan 50 km/jam maka jarak aman anda adalah 50 m. Jarak aman tersebut berbeda-beda tergantung kemampuan pengereman mobil.

Jangan lupa juga gunakan wiper untuk membersihkan kaca depan dari butiran–butiran air yang menempel. Karena butiran air ini akan mengganggu pandangan kita yang ada di dalam mobil. Jika melibas kabut yang cukup tebal hingga menyebabkan kaca berembun pada bagian dalamnya, anda bisa menghilangkannya dengan menghidupkan AC mobil kita. Dengan AC mobil hidup embun tidak akan menempel pada kaca sehingga pandangan anda terhadap jalan menjadi lebih terang.

Jangan lupa juga pemakaian lampu xenon dan lampu halogen, karena lampu jenis ini mempunyai daya pancar cahaya yang lebih besar.

Kamis, 10 November 2011

Tips Menghemat Biaya Operasional Mobil Bekas

Mobil adalah merupakan alat transportasi penting yang masuk dalam kelompok kebutuhan sehari-hari. Sama seperti yang lain dalam kelompok itu, kebutuhan transportasi harus dibuat seirit dan se-efektif mungkin agar tidak menggangu stabilitas neraca keuangan rumah tangga.
  
Konfigurasi mesin empat silinder segaris lebih hemat dari V6 ataupun V8 yang peformanya jauh lebih baik. Mobil bekas yang ringan, kecil juga lebih bersahabat soal bensin.

Hal ini dirasakan terutama di kota-kota besar. Penghematan bisa dimulai ketika membeli mobil. Memilih mobil bekas bisa menghemat sekian juta rupiah dibandingkan mobil baru dari model yang sama (tentu yang masih baik dan layak), Demikian pula pajak yang harus dibayarkan, juga lebih hemat.

Jika saat ini anda sudah memiliki mobil bekas, anda masih bisa melakukan penghematan dengan langkah-langkah sederhana berikut tips menghemat biaya operasional mobil bekas yang sesuai akal sehat :

  • Pakai bahan bakar rekomendasi pabrik : Kalau mobil anda dirancang untuk memakai premium, ya beli premium. Membeli bensin yang lebih mahal tidak memberi keuntungan yang signifikan. Hanya saja, hati-hati dengan premium bertimbal yang masih saja dijual Pertamina. Bensin ini cenderung menghasilkan timbunan kerak di ruang bakar dalam jangka panjang.
  • Perlakukan mobil secara lembut dan hati-hati : Jalankan mobil dengan lembut dan halus. Bawalah mobil ke kecepatan ideal/jelajah dengan cepat tapi jangan kasar. Usahakan untuk stabil di kecepatan itu. Ini akan menghemat bensin. Hindari kebiasaan ngebut dan ngerem berulang-ulang. Menjalankan mobil dengan lembut, bukan saja menghemat bensin tapi juga memperpanjang umur mesin, transmisi dan rem.
  • Jangan memanaskan mesin terlalu lama : Kebiasaan memanaskan mesin itu baik, tapi jangan terlalu lama. Karena bensin yang terbakar itu tidak membawa anda kemana-mana. Lagipula mobil lebih cepat panas ketika dikendarai. Apalagi teknologi mobil sekarang tidak membutuhkan waktu pemanasan bermenit-menit. Jadi buat apa buang bensin dengan, ritual pemanasan berlama-lama.
  • Tidak harus bengkel resmi : Dealer resmi tentu dilengkapi dengan peralatan modern dan berpengalaman memperbaiki mobil produksinya. Tapi bengkel resmi biasanya lebih mahal dari bengkel biasa. Jadi ada baiknya mencari bengkel biasa dengan mekanik berpengalaman dan profesional untuk melakukan perawatan rutin mobil anda. Sedangkan pada kasus-kasus tertentu yang tergolong sulit dan jarang terjadi, lebih baik manfaatkan bengkel resmi. Biasakan menyimpan catatan perawatan mobil setiap kali mobil masuk bengkel. Catatan ini akan sangat berguna kelak bila mobil akan dijual kembali.
  • Periksa ban mobil : Seringkali pengendara lalai memeriksa ban mobil. Padahal ban yang kurang tekanan anginnya membutuhkan energi lebih besar untuk menggulirkannya, selain lebih cepat aus. Cek ban minimal sebulan sekali pada kondisi dingin. Tekanan yang direkomendasikan biasanya tertera di buku manual ataupun di bagian dalam mobil. Kebiasaan ini akan memperpanjang umur ban yang sekarang mahal harganya. 
  • Hati-hati dengan rak atap (roof rack) : Mungkin tidak pernah terpikirkan bahwa menempatkan barang di roof rack akan menyebabkan bensin mejadi lebih boros. Kenyataannya terganggunya aliran udara akibat penempatan barang itu menyebabkan mesin harus bekerja lebih keras dan ini berarti bensin lebih banyak. Bila dilengkapi AC, biasakan untuk menutup semua jendela, karena jendela yang terbuka akan mengganggu aliran udara dan menciptakan hambatan baru.
  • Sabuk pengaman bukan hiasan: Manfaatkan sabuk pengaman, karena perangkat ini terbukti memberikan perlindungan optimal ketika terjadi benturan. Risiko cidera bisa dikurangi, demikian pula biaya perawatan rumah sakit.
  • Perawatan secara teratur : Kebiasaan merawat mobil termasuk ganti oli secara reguler pada akhirnya akan menekan biaya operasional, karena mobil beroperasi dalam kondisi puncak dan jarang rusak. Mesin yang tidak di tune up menyerap bensin 10-20 persen lebih banyak dari yang rajin dirawat. Mesin-mesin modern yang dikontrol komputer memang tidak membutuhkan tune up sesering mesin lama, tapi tetap harus dirawat. Pastikan mobil dirawat sesuai jadwal yang ada pada buku manual. Bertindak sigap ketika mendengar atau merasakan suara, getaran dan bau yang berbeda, akan banyak membantu mengurangi risiko kantong kering.

Rabu, 09 November 2011

Tips Pengereman Pada Mobil Bekas Di Jalan Basah

Menurut kemampuan dan jarak pengereman tiap mobil bekas tentu berbeda. Sistem rem, bobot kendaraan dan beban yang diangkut, kecepatan kendaraan, bentuk dan profil ban, kondisi jalan serta reaksi pengemudi dan teknik pengereman menjadi faktor yang membedakan. berikut dibawah ini  tips pengereman pada mobil bekas di jalan basah

Dengan frekuensi hujan yang mulai datang saat ini yang terkadang tak menentu, tentu membuat cara mengemudi sedikit berbeda. Baik saat melaju, bermanuver atau melakukan pengereman. Kondisi permukaan jalan yang basah menjadi kendala tambahan yang harus dihadapi pengemudi.

Namun kenyataannya permukaan jalan basah yang dijumpai tidak hanya lapisan tipis air saja. Tapi juga ada genangan air atau lapisan yang berisi campuran air dengan tanah. Atau malah luapan air yang membanjiri jalan. Dengan beragam kondisi itu, tingkat licin jalan juga berbeda. Bahkan untuk beberapa mobil yang terpaksa melewati area banjir, kemampuan pengeremannya dapat berkurang.

Perlu adaptasi meski pengereman darurat jarang dilakukan, namun Anda dan mobil harus siap pada saat dibutuhkan. Namun sebelum membahas teknik pengereman untuk menghadapi kondisi jalan licin, sebaiknya pahami dulu sistem rem mobil Anda.

Umumnya, mobil saat ini dilengkapi rem cakram di kedua roda depan dan teromol di belakang. Tapi ada pula yang dilengkapi dengan rem cakram di keempat rodanya. Ada mobil yang sudah mengaplikasi Antilock Braking System berikut fitur Electronic Brake Distribution dan Brake Assist. Dengan mengetahui sistem rem mobil Anda, maka cara pengereman pun bisa berbeda.

Pada permukaan basah atau berlumpur, jika mobil telah dilengkapi sistem ABS + EBD + BA, pengereman darurat bisa dilakukan dengan menginjak penuh pedal rem. Namun pada beberapa mobil, pedal rem terasa empuk dan agak melawan tekanan kaki Anda. Maka yang dibutuhkan adalah tendangan yang kuat menginjak pedal rem agar kerja optimal dari sistem rem tercapai.

Hasilnya, sistem menjaga ban tidak mengunci dan mobil masih bisa diarahkan. Dan Anda dapat terus memberi input  pada setir untuk mengarahkan mobil ke tempat yang aman atau menghindari objek di depan.

Sementara pada mobil yang tidak dilengkapi ABS, cara pengereman yang dilakukan adalah dengan cara memompa (pulse braking) dengan tekanan dan frekuensi tetap. Artinya, Anda mengikuti prinsip kerja dari ABS agar pengendalian mobil masih bisa dilakukan.

Cara lainnya adalah menginjak kuat pedal rem hingga ban nyaris mengunci. Jika sampai mengunci, maka mobil akan menggelosor tanpa bisa dikendalikan. Lepas dan tekan kembali pedal rem agar ban tetap dapat traksi. Nah, kedua cara itu tadi perlu adaptasi, sehingga tak ada salahnya jika Anda sering berlatih melakukan pengereman darurat.

Berikutnya adalah permukaan jalan yang digenangi air sehingga menyebabkan gejala mengambang (aquaplanning) dan basah bergelombang. Tingkat kesulitan pengereman pada kedua kondisi jalan ini lebih tinggi. Pasalnya, traksi ban menurun drastis, terlebih pada kecepatan lebih tinggi.

Mobil pun seakan melayang di atas permukaan jalan dan mudah kehilangan pengendalian. Maka waspadai dan sebisa mungkin hindari melintas dengan kecepatan tinggi pada kedua permukaan jalan itu. Tapi di saat benar-benar kritis, Anda dapat melakukan kedua cara pengereman di atas sambil berupaya mengarahkan mobil ke tempat yang aman.

Beberapa ruas jalan kerap banjir saat musim hujan tiba. Jika Anda terpaksa melintasinya, pastikan sistem rem Anda tetap berfungsi normal. Sesudah melewati area banjir, injak pedal rem beberapa kali sambil berjalan pelan. Hal ini untuk menghilangkan lapisan air yang ada pada permukaan teromol atau cakram rem. Sehingga saat dibutuhkan pengereman, tidak ada yang menghalangi kontak dengan sepatu rem.

Selasa, 08 November 2011

Tips Engine Braking Pada Mobil Bekas Matic

Cara engine braking tetap dapat digunakan pada mobil bekas yang menggunakan transmisi automatic (matic), tapi ada triknya. Pemanfaatan engine braking yang dapat membantu menghemat kanvas rem pada mobil matic ini bisa diperoleh dengan melakukan pemindahan tuas transmisi ke posisi transmisi yang lebih rendah (downshift) berikut ini tips engine braking pada mobil bekas matic
Setelah menginjak pedal rem dan kecepatan mobil berkurang, geserlah tuas transmisi dari posisi D (DRIVE) ke,

Ke posisi 3, atau Off-kan fungsi Overdrive / OD pada transmisi yang masih menggunakan Overdrive manual (dengan cara menekan tombol O/D yang terdapat pada tuas transmisi). Transmisi akan turun ke posisi roda gigi ketiga dan tidak akan bisa pindah ke roda gigi ke empat.

Pindah lagi ke posisi 2. Transmisi akan turun ke roda gigi kedua saat kecepatan kendaraan turun dengan cepat ke kecepatan di bawah 90 - 80 km/j. Penggeseran ini membuat efek engine braking lebih kuat.
Pindah ke posisi L. Transmisi akan turun ke roda gigi pertama saat kecepatan kendaraan turun dengan cepat ke kecepatan di bawah 40 - 30 km/j. Di posisi ini engine braking didapat secara maksimum.

Lakukan ketiga hal diatas secara berurutan atau bertahap dari yang paling tinggi ke roda gigi yang paling rendah, jangan langsung melakukan downshift tanpa berurutan, karena dapat menyebabkan mobil kehilangan kendali dan rusaknya transmisi. Prinsipnya mirip dengan transmisi manual, engine braking diperoleh dengan melakukan perpindahan ke transmisi yang lebih rendah secara bertahap sesuai kecepatan. Angka kecepatan yang disebutkan di atas harus disesuaikan pada masing-masing kendaraan ( biasanya keterangannya ada di buku pedoman pemilik).

Trik Lainnya : Memang, dengan perpindahan ini maka laju mobil agak terasa tersentak. Ini tanda engine braking bekerja. Sentakan tersebut dapat semakin kita kurangi dengan memperhatikan kecepatan mobil saat melakukan perpindahan posisi tuas transmisi.

Untuk kondisi jalan saat di medan yang menanjak atau menurun, engine braking bisa kita dapatkan tanpa harus memindah posisi tuas transmisi seperti diatas. Caranya adalah dengan menjalankan kendaraan dengan posisi tuas transmisi pada posisi "2". Posisi ini membuat transmisi tidak bisa berpindah dari posisi "2" ke gigi yang lebih tinggi dan efek engine braking pada saat kita mengurangi tekanan pedal gas akan lebih besar.

Atau bisa juga menggunakan posisi "L" saat posisi kendaraan berhadapan dengan jalan yang menanjak atau menurun curam (misalnya, di basement gedung). Pada posisi ini, gigi percepatan hanya dapat bergerak pada posisi roda gigi "1" saja.

Tetapi, posisi "2" atau "L" sebaiknya tidak digunakan dalam waktu yang lama. Kalau sudah berada di jalan datar, segera pindahkan transmisi ke posisi "D". Hal ini untuk mencegah fluida transmisi dari mengalami overheating maupun kerusakan pada transmisi.

Senin, 07 November 2011

Tips Faktor Penyebab Kerusakan Ban Mobil

Jika sewaktu-waktu anda sedikit kaget setelah menetahui dan mendapatkan kembang ban mobil bekas anda tidak merata. Hal ini biasanya disebabkan oleh gaya mengemudi anda atau adanya yang kemakan bagian luar atau dalam ban anda serta berbagai faktor lainnya, berikut ini beberapa tips faktor penyebab kerusakan ban mobil  :
  • Pengereman dan Akselerasi Kasar : Buat mobil yang belum dilengkapi ABS, mengerem secara kasar, membuat kembangan ban habis tidak rata. Apalagi sampai melakukan pengereman secara ekstrem (rem blok), menyebabkan benang putus. Dan ketika melaju pelan akan terasa ban seperti benjol, praktis kenyamanan terganggu.Pelek Tidak sesuai Seperti memakai celana, paling enak jika ukurannya pas. Pelek dan ban juga demikian. Bila tidak sesuai, misal ban dipasang pada pelek yang ukurannya satu atau dua kali lebih besar dari pelek standar ban itu, jelas akan membentuk donat dan kerja dinding ban menjadi lebih berat. Pasalnya, sudut dinding ban menyempit dan mudah ratak, pecah atau benjol.
  • Tekanan Angin : Sering diabaikan, terutama bila tekanan anginnya di bawah ukuran standar. Dampaknya, kerja dinding ban lebih berat dan mengakibatkan defleksi berlebihan. Tak cuma itu, membuat serat baja di dalam ban cepat putus dan ban meletus. Jika tekanan angin kurang, tambah dan sebaiknya dilakukan saat ban dalam kondisi dingin. Ukurannya, biasanya tertera di pintu atau lihat buku manual. Sebaliknya, tekanan angin terlalu keras mengurangi daya cengkeraman. Lebih berbahaya kondisi jalan licin, saat hujan atau melindas ceceran oli.
  • Pecahan Benda dan batu Batu, pecahan kaca atau benda keras (seperti mur, baut, pelat) kerap terselip di sela kembangan ban. Ketika roda berputar, ban seperti dipalu berulang-ulang. Bukan tidak mungkin, seperti baut yang menempel cukup panjang bisa menggembosi ban. Nah, ketika jalan terdengar bunyi, tik..tik..tik..tik, tandanya ada benda di ban dan cepat lepaskan.
  • Sudut Camber Negatif/Positif Kerusakan tie-rod, as roda atau bearing bisa berujung tidak serahnya roda secara vertikal (camber). Bisa camber negatif atau positif. Akibatnya seperti kasus toe in/out, telapak ban cepat rusak, bisa bagian dalam (negatif), bisa juga luar (positif). Segeral lakukan spooring dan balancing.
  • Mengemudi Agresif : Tanpa disadari mengemudi yang kasar mempercepat habisnya kembang ban. Kadang terkelupas yang disebabkan menabrak lubang atau benda-benda keras.
  • Suspensi Lemah : Tidak maksimalnya kerja komponen suspensi, seperti sokbreker dan per membuat telapak ban benjol-benjol. Semisal sokbreker sudah mati, tentu per tidak mampu menahan impak sendirian. Ayunan mobil yang kuat akibat lemahnya suspensi membuat ban menahan beban tidak merata.
  • Toe In/Toe Out : Arah roda tidak searah secara horizontal baik ke dalam (in) maupun ke luar (out). Akibatnya, telapak ban bagian dalam (Toe in) atau luar (toe out) akan tergerus lebih cepat. Lakukan spooring dan balancing agar roda berputar tanpa getaran.